Berbeda masa dan perjalanan hidup. Ketika saaatnya aku harus memikul tanggung jawab menjadi orang tua. Terasa punggung ini begitu berat dan ringkih. Seringkali menatap kelangit tinggi, berharap banyak keajaiban terjadi dan waktu kanak-kanakku bisa juga dinikmati oleh segenap anak-anakku.
Tak boleh ada keluhan dalam melewati semuanya, karena ini adalah perjalanan yang harus kutempuh untuk mencapai garis finishku. Bukan tentang kamu, dia atau mereka. Tapi tentang aku.
Melihat gelak tawa dan wajah ceria anak-anak di taman yang bermain menikmati dunia mereka dengan perut kenyang dan mainan kesayangan di tangan mereka selalu membuat mataku berkaca. Terbayang buah hatiku dengan perut lapar dan mainan yang masih saja menjadi impian sejak bertahun yang lalu. Maafkan aku, Nak.
Ini perjalan kita. Mungkin tak seindah yang mereka lewati. Mungkin tak seringan langkah yang mereka ayunkan, tapi ini perjalanan kita, Nak.
Ingin kuambilkan bintang di langit untuk menemani tidurmu, hingga terlukis senyum indah di bibir manismu.... tapi sayapku belumlah tumbuh, dan tak akan pernah tumbuh. Ingin ku pinjam sedikit cahaya matahari untuk meronakan pipi cantikmu dengan kehangatan bahagianya.. tapi tanganku tak sanggup untuk meraihnya.
Hanya bulir debu dan embun yang dapat kubasuhkan ke wajah-wajah kesayanganku. Semoga bisa membuatmu sedikit segar dan terbangun. Semoga dapat membuatmu mampu untuk meraih bintangmu sendiri. Meraih cahaya matahari di hidupmu.
Harapku untuk bahagiamu.
Bandung, 11 agustus 2018
Komentar
Posting Komentar